Danau Toba

Hati yang gembira adalah obat. Kata – kata itu melekat dalam hati seotang pemuda miskin yang tinggal di sebuah desa di Sumatera Utara. Kata – kata itu selalu menyemangatinya untuk giat bekerja, meskipun ia hanyalah seorang petani dan pemancing ikan di sungai. Ia tinggal seorang diri. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal.

Suatu hari, ketika ia sedang memancing ikan di sungai, tiba – tiba kailnya tampak bergerak – gerak. Umpannya dimakan ikan. “Wah, ini pasti ikan besar,” pikirnya. Lalu , ditariknya pancing itu dan terlihatlah ikan yang aneh, sekor ikan yang besar dan cantik. Ia melepas kail itu. Tiba – tiba ikan itu berubah menjadi seorang putri yang sangat cantik. Pemuda itu sangat terkejut.

Putri itu menceritakan bahwa tadinya ia terkena kutukan para dewa, karena ia melanggar suatu larangan sehingga ia dikutuk menjadi seekor ikan. Kini ia berubah menjadi seorang  manusia karena tersentuh oleh manusia.

Si pemuda jatuh hati kepada putri cantik yang ia temukan itu. Ia pun segera meminangnya untuk dijadikan istrinya. Sang putri pun menerima pinangan itu. Namun, ia mengajukan satu permintaan kepada si pemuda. ” Kakanda, aku bersedia menjadi istri kakanda asalkan kakanda mau menjaga rahasia, ” kata sang putri. ” Rahasia apa dinda? katakan saja. Aku pasti menjaga rahasia itu.”

“Kakanda jangan mengatakan kepada siapa pun bawha dinda berasal dari seekor ikan”. “Baiklah, dinda. Kakanda akan menjaganya.” Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang bayi laki – laki. Bayi ini tumbuh dengan cepat. Namun,  ada yang aneh dari anak ini. Sebentar – sebentar ia merasa lapar.

Saat itu hari sudah siang. Kedua orang tuanya akan pulang dari ladang untuk beristirahat dan makan dirumah. Tetapi, kali ini rasa lapar di perutnya sungguh tak tertahankan. Akhirnya, semua makanan yang ada di meja, termasuk makanan untuk kedua orangtuanya ia makan. Ayahnya yang lelah dan lapar kaget melihat semua makanan habis dimakan anaknya. Sang ayah sangat marah, sampai ia mengeluarkan kata – kata kasar.

“Hah! Dasar keturunan ikan!!!”

Tanpa ia sadari, ia telah melanggar janjinya. Seketika itu juga, anak dan istrinya menghilang. Dan,  tepat di tempat anak dan istrinya berpijak, tiba – tiba muncullah mata air yang meyembur. Ia sangat menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf. Tapi, semua sudah terlambat.

Semburan air itu semakin deras dan genangannya membesar hingga menenggelamkan pepohonan tinggi. Lama kelamaan genangan air itu menjadi sebuah danau. Orang – orang memberinya nama Danau Toba. Sampai sekarang tempat itu banyak dihuni oleh penduduk dan dijadikan sebagai salah satu rempat wisata di Sumatera Utara.

Dikutip dari :

Cerita Rakyat Indonesia

oleh : Yusup Kristianto

Nabi Yunus A.S.

Ada sebuah negeri di bagian Selatan Irak bernama Ninawa. Negeri itu sangat kaya. Namun penduduknya ingkar dan tidak bersyukur. Mereka menyembah berhala dan bukan menyembah Allah.

Allah pun mengutus Nabi Yunus Alaihi Salam untuk berdakwah kepada penduduk negeri itu. Nabi Yunus menyeru penduduk Ninawa untuk menyembah Allah, pencipta alam semeata beserta isinya. Ajakan Nabi Yunus ditolak mentah – mentah oleh penduduk Ninawa. Setelah bertahun – tahun, hanya sedikit yang mau mengikuti ajakan Nabi Yunus untuk beriman kepada Allah.

Melihat keadaan tersebut, Nabi Yunus yang memberitahukan bahwa azab Allah segera datang kepda mereka. Namun, penduduk Ninawa tidak percaya. Mereka tidak peduli dengan peringatan Nabi Yunus. Suatu hari, sebelum azab yang dijanjikan tiba, Nabi Yunus pergi meninggalkan kumnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah awan gelap yang bergumpal – gumpal diselingi petir yang menyambar – nyambar, dan cahaya merah seperti api yang hendak turun dari langit. Penduduk Ninawa berlarian mencari perlindungan. Saat itulah mereka ingat Nabi Yunus. Para penduduk pun berbondong – bondong mencari Nabi Yunus. Mereka beramai – ramai memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT.

Tobat mereka diterima Allah. Awan gelap yang menyelimuti kota itu pun menghilang perlahan – lahan, sehingga azab tidak jadi diturunkan. Penduduk Ninawa pun terkejut melihat berhala sembahan mereka hancur berkeping – keping terkena sambaran petir.

“Benarlah apa yang dikatakan Nabi Yunus. Mulai sekarang, kita akan menyembah Allah dan mengikuti ajarannya!” seru penduduk Ninawa.

Sementara itu, Nabi Yunus telah tiba di pinggir laut. Nabi Yunus akhirnya naik ke sebuah kapal. Ia berencana pergi jauh dari negeri Ninawa karena penduduknya tidak mau menerima dakwahnya. Perjalanan Nabi Yunus ternyata tidak mudah. Di tengah laut, topan dan gelombang besar datang menghadang. Kapal pun terombang – ambing dan hampir tenggelam.

Nakhoda kapal langsung mengumpulkan para penumpang. “Biasanya, hal seperti ini terjadi jika ada seorang pelarian di dalam kapal. Kapal ini tidak mau membawa orang yang sedang dalam pelarian. Karena itu, kita akan mengundi siapa yang akan dibuang ke laut!” seru sang nakhoda.

“Tidak usah diundi. Akulah orangnya. Biar aku saja yang terjun kelaut!” kata Nabi Yunus. “Dari raut wajahmu, aku tidak percaya engkau seorang pelarian,” ucap nakhoda kapal. “Sudah, diundi saja biar adil!” seru penumpang yang lain. Setelah diundi sebanyak tiga kali, nama Nabi Yunus selalu keluar. Itu artinya, Nabi Yunus akan dibuang ke tengah laut. Melihat hal itu, Nabi Yunus tidak terkejut. Dari semula ia merasa bahwa dirinyalah yang menyebabkan kapal terombang – ambing.

Tanpa dipaksa, ia pun langsung terjuan kelaut. Tiba – tiba, saat tubuhnya akan mencapai air, sebuah mulut hewan raksasa menangkap dirinya. Ya, seekor ikan paus yang sangat besar diutus Allah untuk menelan Nabi Yunus. Ikan paus itu diperintahkan Allah agar tidak memakan daging dan meremukkan tulang Nabi Yunus, karena Nabi Allah itu bukan santapannya. Allah hanya ingin perut ikan paus itu sebagai penjara untuk Nabi Yunus.

Ikan paus itu lalu membawa Nabi Yunus ke berbagai lautan, hingga sampai di dasar sebuah lautan. Mengetahui dirinya berada di dalam perut ikan, Nabi Yunus pun berdoa pada Allah, “Ya Allah, tidak ada tuhan selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang zalim!”

Nabi Yunus terus – menerus berdoa, memohon ampun pada Allah SWT, atas kekhilafannya. Allah SWT pun mendengar doa Nabi Yunus dan berkenan mengampuninya.

Dengan perintah Allah, paus besar yang menelan Nabi Yunus perlahan – lahan berenang ke tepi laut dan memuntahkan tubuh Nabi Yunus yang sakit dan lemas ke daratan. Allah lalu menumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu dan melindunginya dari terik matahari sampai keadaan tubuhnya membaik.

Setelah sehat kembali, Allah SWT, memerintahkan Nabi Yunus untuk kembali ke kaumnya di negeri Ninawa yang dulu ditinggalkan. Nabi Yunus pun berjalan menuju kampung halamannya. Penduduk kota Ninawa menyambut gembira kembalinya Nabi mereka yang telah lama menghilang.

 

 

Dikutip dari :

Mukjizat Nabiku

Ummu Asma

Ummu Fathan

Merpati Nabi Ibrahim

Aku seekor burung merpati. Aku mempunyai istri dan dua ekor anak. Kami tinggal di sebuah sarang di halaman rumah Nabi Ibrahim. Setiap pagi, beliau menyebarkan biji – biji jagung untuk kami dan remahan roti untuk semut.

Suatu hari, istriku terlelap di samping anak – anak. Sementara aku duduk di luar sarang. Tiba – tiba, tangan Ibrahim menghampiriku. Aku menyerah pada tangan suci itu. Aku melihat di tangannya yang lain ada sebilah pisau. Pisau itu diarahkan ke leherku. Ketika mata pisau itu semakin mendekati leherku, istriku terbangun dan berteriak keras! “Ayaaaaah…!!!”

Aku tidak merasakan apa – apa. Mata pisau itu terhunjam di leherku. Suara terakhir yang kudengar adalah jeritan istriku. Lalu, aku dan tiga ekor burung lain sampai di pangkuan Ibrahim. Tak lama, kami pun terbang ke sarang  masing – masing. Kulihat, Ibrahim bersujud dan berdo’a kepada Allah.

Tiba di sarang, aku hanya mendapati kedua anakku yang menangis kelaparan. Sementara istriku tidak ada! Aku pun segera terbang menuju pinggir sungai. Tempat aku dan istriku sering bertemu. Kulihat istriku sedang bertengger di dahan pohon. Matanya menatap tajam ke arah sungai tanpa bergerak. Begitu ia melihatku, ia berteriak keras. “Ya Tuhan, bagaimana mungkin ini terjadi? Bukankah kamu….” Aku melihat tubuh istriku bergetar. Lalu, ia meneruskan perkataannya. “Bagaimana kamu bisa hidup kembali? Padahal kamu telah disembelih Ibrahim? “Tiba – tiba, aku teringat mata pisau yang menghunjam leherku. “Istriku, ceritakan semua yang terjadi!”

“Ibrahim telah menyembelihmu di depan mataku. Tubuhmu terpotong – potong bersama tiga ekor brung lain. Lalu, potongan itu dicampurkan dan diletakkan di empat bukit yang berjauhan.”

“Lalu,  apa yang terjadi selanjutnya?” tanyaku. “Entahlah….Setelah itu aku pergi ke pinggir sungai. Tiba – tiba, kamu muncul disampingku. Tentu saja aku kaget!” Hmmm… kini aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku teringat kata – kata Ibbrahim, ” Tuhanku perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati?” Kini, Allah telah memperlihatkan bukti itu melalui aku dan ketiga burung lain. Kami disembelih, kami mati, dan kami dihidupkan kembali.

Setelah itu, istriku mengajak pulang sambil membawa makanan untuk anak – anakku. “Alhamdulillah. Terimakasih, ya Allah!” kataku.

 

 

Dikutip dari :

Kisah Binatang dalam Al-Quran

Iqro Media

Gajah Abrahah

Tidak ada binatang di muka bumi ini yang lebih besar daripada gajah. Gajah, selain memiliki tubuh yang besar juga memiliki gading dan belalai yang sangat kuat. Tapi, hal itu tidak membuatku bangga.

Aku lahir di hutan Afrika. Ayahku seekor gajah besar dan kuat. Ia mampu mencabut pohon paling besar di hutan. Semua binatang takut kepada ayahku termasuk singa si Raja Hutan. Suatu hari, ayah memanggilku dan mengajakku berbicara. “Anakku, Ayah akan pergi dan tidak akan kembali. Ingat, janganlah menggunakan kekuatan untuk menyakiti atau merusak, ” kata ayah.

“Ayah mau kemana?” tanyaku. “Ayah akan pergi ketempat peristirahatan ayah yang terakhir. Setelah itu, ayah pergi menuju hutan dan tidak pernah kembali!”

Suatu hari, aku dan teman – temanku bermain dihutan. Tiba – tiba, kami terperosok lubang yang dibuat pemburu gajah. OEEE…! OEEE…! OEEE…! Aku dan temanku berusaha keluar dari lubang itu. Tetapi tidak bisa! Lalu, aku dan temanku dibiarkan berhari – hari dalam lubang hingga kelaparan. Ketika kekuatan kami melemah, mereka menggiring kami ke sebuah istana.

Tiba di istana, aku melihat seorang raja. Raja itu bernama Abrahah. “Hahaha…inilah gajah besar yang kuinginkan! Hahaha…,” teriak Abrahah senang. Begitu Abrahah mendekatiku, aku mengangkat belalaiku dan berteriak keras – keras. OEEE…! OEEE…! OEEE…! Abrahah ketakutan. Lalu, prajuritnya memukulkan cemeti ke tubuhku. PLETAR!!! PLETAR!!! PLETAR!!! Duh, sakitnya!

Abrahah cukup pintar. Ia membiarkan kami kelparan. Dalam keadaan lapar, kami menaati siapa pun yang memberi makan. Prajurit Abrahah melatih kami cara menyerang manusia dan menghancurkan bangunan. “Majuuu…!” teriak prajurit. Kami semua mengikutinya. “Hancurkan…!” teriak prajurit. Kami pun terus mengikutinya.

Suatu hari, Abrahah mendengarkabar bahwa di kota Makkah ada bangunan suci bernama Ka’bah. Banyak orang yang datang untuk mengunjunginya. Makkah pun jadi ramai dan penduduknya hidup sejahtera. Abrahah rak mau kalah. Ia ingin mempunyai bangunan yang sama. Lalu, ia membuat bangunan yang indah dan megah.

Ternyata, hanya sedikit yang mengunjungi tempat itu. Abrahah sangat marah. Ia pun berniat menghancurkan Ka’bah. Lalu, ia pun mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Ka’bah. Aku dan teman – temanku berada di barisan paling depan. Tiba – tiba, aku teringat pesan ayah, janganlah menggunakan kekuatan utnuk menyakiti atau merusak!

Keesokan paginya, aku dan teman – teman bersiap menuju kota Makkah. Tak lama, pasukan Abrahah tiba di Makkah. Ia menyatakan akan menghancurkan Ka’bah. Selain itu, prajuritnya mencuri 200 unta milik Abdul Muthalib. Abdul Muthalib pun segera meminta unta – untanya dikembalikan! ” Huh, aneh, mengapa kamu malah mencemaskan unta – untamu? Padahal aku akan menghancurkan Ka’bah!” kata Abrahah. “Unta itu milikku sedangkan Ka’bah milik Allah. Biarlah Allah yang akan menjaganya,” kata Abdul Muthalib tenang.

Abrahah semakin marah dan bersiap menyerang Ka’bah. Abdul Muthalib segera memperingatkan penduduk Makkah untuk menyelamatkan diri. Sebelum pergi, Abdul Muthalib berdo’a kepada Allah untuk melindungi Ka’bah.

Pasukan gajah mulai bergerak. Tiba – tiba, aku mendengar sebuah suara. “Jangan bergerak dari tempatmu kecuali utnuk melarikan diri! Kamu telah tertahandi tempat ini.” Aku yakin, itu suara malaikat! Aku pun berhenti. Tentu saja prajurit Abrahah marah karena aku berhenti. Mereka mencambukku. Tetapi, aku tetap tidak mau berjalan.

Tiba – tiba, langit menghitam. Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah matahari. Rupanya, matahari telah tertutup burung ababil yang tak terhitung banyaknya. Burung – burung itu menghujani Abrahah dan pasukannya dengan batu – batu yang sangat panas “AKHHH…AKHHH…,” teriak Abrahah dan pasukannya. Aku pun segera berlari menyelamatkan diri. Aku berlari sekencang – kencangnya menuju padang pasir. Aku selamat! Terima kasih, ya Allah!

Dikutip dari :

Kisah Binatang dalam Al-Quran

Iqra Media

Sapi Betina Bani Israil

Aku adalah seekor sapi betina yang hidup dizaman Bani Israil. Majikanku seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal saat ia masih kecil.

Sebenarnya, aku bukanlah sapi biasa. Aku seekor sapi yang lebih cantik dibandingkan sapi – sapi lainnya. Kulitku berwarna kuning terang. Siapapun yang melihatku pasti senang! Tubuhku sedang – sedang saja. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Aku ingin menceritakan sedikit tentang Bani Israil. Mereka pernah membuat kalangan sapi kebingungan. Oya, semua ini aku dengar dari Nabi Musa. Dia adalah nabi Bani Israil yang pernah langsung berbicara dengan Allah. Subhanallah, hebat ya!

Hari itu cukup panas. Ketika sedang berkumpul bersama teman – teman, aku mendengar teriakan yang sangat keras. “iliyail, orang terkaya Bani Israil dibunuuuuh…! Malamnya, aku dan teman – teman tidak bisa tidur akibat keributan yang terjadi dikampung.

Aku mendengar bahwa keluarga korban ingin menuntut balas. Tetapi, mereka tidak tahu siapa pembunuh iliyail. Keesokan harinya, aku berkumpul bersama teman – teman. “Apakah penduduk kampung menemui Musa?” Tanya temanku, seekor sapi cokelat. “Ya, “jawabku. “Apa yang dikatakan MUsa?” tanyanya lagi. “Aku tidak tahu.” Jawabku.

Tak lama, aku mendengar dari orang – orang bawha Musa menyuruh mereka untuk menyembelih seekor sapi. “Kenapa harus menyembelih sapi? Apa hubungannya pembunuhan manusia dengan menyembelih sapi?” Tanyaku dalam hati. Akhirnya, aku tahu bahwa Bani Israil harus memukul mayat dengan ekor sapi yang telah di sembelih. Nanti, mayat itu akan hidup dan menjelaskan orang – orang yang telah membunuhnya. Hmmm…aku sangat yakin, ini pasti mukjizat Nabi Musa.

Suatu siang, teman – teman mengerumuniku. “Ada apa teman – teman?” tanyaku. Lalu, mereka menceritakan bahwa saat ini Bani Israil sedang mencari seekor sapi. Ciri – ciri sapi yang dicari : betina, tidak tua tidak muda, warnanya kuning, belum pernah dipakai membajak tanah, tidak cacat, dan tidak ada belangnya.

DEGH! Aku terhenyak! Semua ciri itu tepat mengena pada diriku. Ya, sapi itu adalah aku! Akupun bersiap menuju akhir hidupku. Aku berserah diri kepada Allah ketika orang – orang Bani Israil itu menyembelihku. Tak lama, potongan ekorku dibawa Nabi Musa. Lalu, dipukulkan ke mayat korban pembunuhan. Tiba – tiba, mayat itu hidup dan memberitahukan orang – orang yang telah membunuhnya. Maka terungkaplah peristiwa pembunuhan itu.

Demikianlah kisahku, sapi Bani Israil. Walau badanku telah berpisah dari ekorku, aku tetap senang karena menjadi bukti salah satu kebenaran Nabi Musa.

Dikutip dari :

Kisah Binatang dalam Al-Quran

Iqra Media

Kakek Pemekar Bunga

Ada seorang kakek yang miskin, tetapi baik hati dan suka menolong. Suatu ketika, ia menemukan anak anjing berbulu putih dan kemudian, ia memelihara anjing tersebut serta menamakannya Shiro.

Suatu hari, ketika si kakek memanggil. Shiro malah berlari ke bawah pohon. Anjing itu menggonggong dan mengais – ngais tanah. “Ada apa, shiro? Apakah ada tulang dibawah sini?” tanya kakek. Shiro pun menggonggong gembira. Jadi si kakek mulai menggali tanah yang ditunjuk anjingnya itu dengan cangkul. Di sebelahnya Shiro juga ikut – ikutan menggali tanah dengan cakarnya.

Tring! Tiba – tiba cangkul si kakek beradu dengan benda logam. Si kakek pun berjongkok memeriksa cangkul dan tanah galiannya. “Oh, banyak sekali keping emas disini Shiro, terimakasih,” teriak si kakek sambil memeluk Shiro. Si kakek pun pulang dan menyimpan emas tersebut. Ia juga membagikan sebagian lagi untuk orang – orang miskin.

Mendengar hal itu, tetangga si kakek, seorang yang serakah ingin meminjam Shiro. Tetangga itu membawa Shiro ke kebunnya. Berhari – hari diajak bermain di kebun, Shiro diam saja. Kesal lah tetangga tamak itu dan ia memukul Shiro. Shiro pun mati.

“Maafkan aku, kek. Shiro nakal sehingga saya memukulnya,” kata si tetangga. Si kakek pun memaafkan tetangganya dan menguburkan Shiro di halaman rumahnya.

Suatu malam, si kakek bermimpi tentang Shiro. “Tebanglah pohon dekat kuburanku dan jadikan palu,” kata Shiro dalam mimpi itu. Setelah bangun, si kakek langsung menebang pohon itu. Dari kayunya, ia membuat palu untuk menumbuk kue mochi. Anehnya kue mochi itu berubah menjadi kepingan emas.

Tetangganya yang tamak tadi kembali datang dengan tergopoh – gopoh. Setelah berhasil meminjam palu, si tamak itu langsung menumbuk kue mochinya. Yang terjadi, mochinya justru menjadi hitam legam. Si tamak marah dan melempar palu itu ke perapian, “Palu tidak berguna!!!”.

Si kakek kecewa dengan tingkah laku tetangganya. Namun, ia tetap memaafkan dan mengumpulkan abu palu tersebut ke dalam kantung. Si kakek menabur abu ke dekat kuburan Shiro sambil berdendang. “Mekarlah bunga sakura, mekarlah.”

Ajaib, pohon yang tadinya sudah ditebang menjadi tumbuh kembali. Lama kelamaan, p;ohon itu menjadi indah dengan bunga sakura bermekaran daam sekejap. “Indahnya… coba aku tebarkan ke pohon yang lain.” Si kakek kembali berdendang sambil menabur abu. Ternyata, bunga sakura mulai bermekaran.

Seorang samurai yang melintas terpana melihat keindahan kebun si kakek dan memberi si kakek beberapa keping emas. Namun tetangganya yang tamak itu merebut kantung abu dari kakek. “Ini kantung abuku, ” kata tetangga itu sambil menaburkan abu di kebunnya.

Namun  bunga sakura tidak juga mekar. Pohon – pohon itu malah layu dan berguguran. Si samurai pun marah dan menghukum si tetangga tamak itu. Melihat hal itu, kakek mendatangi si samurai dan memohonkan maaf atas perbuatan tetangganya.

Samurai pun akhirnya mengabulkan permohonan maaf sang kakek dan membebaskan tetangganya itu. Si samurai meminta kakek untuk terus menjadi pemekar bunga.

Dikutip dari:

Dongeng dari Negeri Jepang

Tethy Ezokanzo & Aan Wulandari

Kisah Nabi Sulaiman A.S.

Palestina adalah negeri yang subur dan makmur, dipimpin oleh seorang Nabi bernama Sulaiman Alaihi Salam, beliau adalah Putra Nabi Daud Alaihi Salam. Nabi Sulaiman menjadi raja menggantikan kedudukan ayahnya pada usia 13 tahun. Meskipun muda, dia merupakan anak yang cerdas dan bijaksana. Allah pun menganugerahkan hikmah dan kemampuan menundukkan bangsa jin untuk melayaninya.

Nabi Sulaiman juga diberi kelebihan berupa kemampuan memahami bahasa hewan. Suatu hari, nabi sulaiman mengadakan pertemuan besar yang dihadiri golongan manusia, jin, dan para binatang. Semua telah hadir dalam pertemuan itu, kecuali burung Hud – Hud.

“Ada yang tahu alasan mengapa burung Hud – Hud belum datang?” tanya Nabi Sulaiman. Semua yang hadir terdiam. Tidak ada yang tahu dimana gerangan burung itu berada. “Baiklah, kalaun memang tidak ada yang tahu, aku akan memberikan hukuman kepadanya karena tidak hadir hari ini, ” tegas Nabi Sulaiman.

Tak lama kemudian, burung Hud – Hud datang. “Maafkan aku, wahai, Raja Sulaiman, yang dirahmati Allah SWT. Kali ini hamba datang terlambat. Hamba baru saja pergi ke suatu negeri , yang bernama Saba. Negeri itu dipimpin oleh seorang ratu bernama Balqis. Kerajaannya sangat luas dan rakyatnya makmur. Tapi sangat disayangkan penduduk negeri itu menyembah Matahari.” Kata burung Hud – Hud menjelaskan.

Mendengar cerita burung Hud – Hud, para hadirin yang telah berkumpul menjadi terkesima. Mereka heran mendengar ada sekelompok manusia yang masih menyembah Matahari.

Nabi Sulaiman berkata, ” Aku percaya dengan ceritamu. Jadi, kau tidak akan kuhukum. Tapi, aku menugaskanmumengantar surat untuk ratu negeri Saba.” Burung Hud – Hud pun setuju.

Tak berapa lama, surat itu telah jadi. Isinya, Nabi Sulaiman mengajak Ratu Balqis dan rakyatnya untuk menyembah Allah. Bila Ratu Balqis menolak maka Nabi Sulaiman akan menaklukkan kerajaannya. Burung Hud – Hud pun melesat terbang menuju negeri Saba sambil membawa surat Nabi Sulaiman.

Di istana Negeri Saba terjadi sedikit ketegangan. Ratu Balqis memanggil para penasihat kerajaan untuk membahas surat Nabi Sulaiman. Kerajaan sebenarnya tidak ingin berperang, tetapi mereka juga tidak ingin dilarang menyembah Matahari. Akhirnya, Ratu Balqis yang bijaksana membuat keputusan untuk mengirim utusan kepada Nabi Sulaiman. Utusan itu membawa hadiah yang sangat banyak untuk Nabi Sulaiman.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sampailah para utusan itu ke istana Nabi Sulaiman. Mereka sangat takjubdan terpesona dengan keindahan istana tersebut. “Kami datang karena diutus oleh ratu kami. Kami juga membawa hadiah untuk Baginda Raja Sulaiman,” kata para utusan tersebut.

“Apakah kamu hendak menolong aku dengan hartamu?

Sesungguhnya apa yang Allah berikan kepadaku adalah lebih bak daripada yang kamu berikan. Namun, kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Aku hanya ingin kerajaanmu menyembah Allah SWT. Bila kalian menolak, maka aku akan menaklukkan kerajaan kalian. Pulanglah dan sampaikan perkataanku ini!” tegas Nabi Sulaiman.

Keadaan di istana Negeri Saba kembali tegang. Para utusan yang telah kembali itu mengatakan bahwa Nabi Sulaiman menolak hadiah yang diberikan dan siap berperang bila kerajaan Saba menolak seruannya. Akhirnya, Ratu Balqis memutuskan untuk datang menemui Nabi Sulaiman.

Mengetahui Ratu Balqis akan datang menemuinya, Nabi Sulaiman pun berencana memindahkan singgasana Ratu Balqis yang ada di Negeri Saba ke istananya. Berkatalah ‘Ifrit dari golongan jin, ” Aku akan mendatangkan singgasana itu kehadapanmu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu”. Namun demekian, seorang pemuda yang saleh berkata dengan tenang, “Dengan Izin Allah, aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Baginda Sulaiman pun setuju. Singgasana Ratu Balqis teah berada dihadapan Nabi Sulaiman.

Saat sang ratu tiba, ia pun terkagum – kagum dengan keindahan istana Nabi Sulaiman. “Masuklah kedalam!” seru Nabi Sulaiman. Ketika ingin menginjak lantai istana , sang ratu mengangkat gaunnya karena mengira lantai itu dipenuhi air yang jernih. Sambil tersenyum, Nabi Sulaiman mengatakan bahwa lantai itu terbuat dari kaca yang berkilau.

Ratu Balqis menjadi terkejut ketika melihat singgasana di istana Nabi Sulaiman yang sama persis dengan singgasananya. “Apakah ini mirip dengan singgasana milikmu?” tanya Nabi Sulaiman. “Ini memang singgasanaku. Aku hafal sekali bentuknya. Bagaimana bisa sampai disini?” tanya sang ratu. “Itulah kekuasaan Allah SWT., Allah lah yang patut aku dan kamu sembah, bukan Matahari, “jawab Nabi Sulaiman.

Jawaban Nabi Sulaiman menggugah hati sang ratu. Akhirnya, Ratu Balqis menyadari kekeliruannya dan bersedia mengikuti agama Nabi Sulaiman. Setelah lebih kurang empat puluh tahun Nabi Sulaiman memimpin kerajaannya dengan bijaksana, beliau pun wafat. Kematian Nabi Sulaiman tidak diketahui siapa pun. Mereka baru tahu ketika Nabi Sulaiman jatuh tersungkur karena tongkat yang menyanggah dirinya telah habis dimakan rayap.

Dikutip dari :

Buku Mukjizat Nabiku

Ummu Asma

Ummu Fathan