Nasib Laba – Laba Pembohong

spiderSuatu hari, angin beristirahat setelah sekian lama bertiup. Di puncak bukit, dibalik batu besar, angin tertidur panjang.
Sementara itu, para binatang mulai merindukan angin. Merekapun mengirimkan laba- laba untuk mencari angin. Tidak lama, laba-laba menemukan angin dan membangunkannya.
Angin tidak suka tidurnya diganggu olah laba-laba. Anginpun mengusir laba-laba dan kembali tidur.
Karena laba-laba berjalan dengan perlahan, butuh waktu yang lama baginya turun dari bukit. Dalam perjalanannya, dia bertemu lalat yang juga dikirim untuk mencari angin.
Laba-laba berbohong kepada lalat dengan mengatakan bahwa ia telah menemukan angin dan berhasil membujuknya. Padahal, sebenarnya angin mengusir laba-laba.
Mendengar berita bagus itu, lalat pulang lebih dulu dan berencana mengakui bahwa ia yang terlebih dulu bertemu angin, bukannya laba-laba. Ia berharap akan mendapatan pujian dari para binatang.
Rencana berjalan lancar. Ia tiba di bawah sebelum laba-laba. Dengan berbohong, lalat menceritakan perjalanan beratnya untuk menemukan angin.
Para binatang merayakan keberhasilan lalat dan memuji lalat setinggi langit. Sementara, saat laba-laba pulang, ia diusir oleh para binatang karena tidak berhasil menemukan angin.
Sejak saat itulah laba-laba dan lalat menjadi musuh. Laba-laba sengaja membuat jebakan untuk membunuh dan memakan lalat. Sementara itu, angin sudah bangun dari tidur dan mulai bertiup kembali.

dikutip dari:

365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa

Sitta Mayasari

FROGS ARE NOT COMPLIANT

frogLittle frog lived with his mother in a pool. Froggy is very naughty. It has never been obedient to his mother. Every time her mother asked to do something, small frogs always do the opposite. If her mother told Froggy went up the hill, it is thus going to the beach.
“Should I harm this child?” sighed the mother frog.
“Son, you gotta like other frogs. Your voice is not the same with other frogs. Now a true  croak ‘KEBERW’, the order of his mother.
“WREBEK,” little frog sounds exactly flipped his mother.
“You’re very naughty.’re Going to kill me with that attitude!” shouted his mother
“WREBEK, WREBEK” Froggy exclamation as she ran from the pursuit of his mother.
Days passed, ill mother frogs. “My son, if I die, do not bury me on the hill, bury me on the river bank,” said the mother frog.
Frog mother thought her son would be buried in place instead of a place that he requested. Not long after, the mother frog dies. Small frogs are very sad. He cried and said to himself, “oh, my poor mother, she died of attitude.”
Small frogs feel guilty, “I always do the opposite of the mother requested. These times, I would do what she asked.”
even small frogs bury her in the river, even though she knew her body could be washed away if the river floods. A week later, heavy rain fell. small frog worried mother’s body will be carried over the river that overflowed. Ultimately, despite the rain, he looked at his mother’s grave while making the sound, “WREBEK, WREBEK”. That is why until now always reads the green frog, “WREBEK, WREBEK” when it rains.

Quoted From :

365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa

Sitta Mayasari

translation by: Reza, Mochammad

Kisah Kakak Beradik Berebut Kue

Seorang anak bernama Juan bertengkar dengan adiknya, Raul. Mereka memperebutkan kue pemberian nenek. “Ini kueku!” kata Juan. “Bukan, kue ini punyaku!” kata Raul. “Kau tidak boleh mengambilnya!” teriak Juan lagi.
Juan menindih adiknya dan memukulinya. Melihat itu, seorang peri datang menemui kedua anak yang sedang berkelahi. Peri itu bertugas mengawasi kelakuan anak – anak.

“Siapa yang engkau pukuli itu Juan?” tanya peri.

“Dia adikku. Namanya Raul, “jawab Juan.

“Ah yang benar, jangan bohong ya, “kata peri tidak percaya. “Ayo jawab yang benar siapa dia?”

“Sungguh dia adikku. Dia saudara kandungku, “kata Juan meyakinkan.

“Ah tidak mungkin. Tidak mungkin dia adikmu. Engkau tahu kan bohong itu dosa. Jika benar dia adikmu, tidak mungkin engkau memukulinya, “kata peri.

“Tapi dia merebut kueku, “kata Juan membantah.

“Oh, sekarang aku tahu. Jangan – jangan kue itu sebenarnya adikmu. Buktinya engkau rela memukulinya untuk sebuah kue. Lagi pula lihat itu! Kuenya sudah hancur karena kalian perebutkan,” kata peri.

Juan dan Raul melihat kue kering yang mereka perebutkan sudah hancur. Mereka merasa bersalah karena telah berkelahi hanya karena sebuah kue. Akhirnya, Juan dan Raul saling peluk dan saling meminta maaf.

 

 

Dikutip Dari:

365 Dongeng Sedunia Sepanjang Masa

 

Sitta Mayasari

Kisah Dua Pedagang

Di sebuah kota ada dua orang pedagang keliling yang tinggal bertetangga, mereka sama – sama menjual perkakas yang terbuat dari kuningan. Namun sifat mereka sangat berbeda, pedagang pertama adalah orang yang jujur, sedangkan pedagang kedua punya perangai tamak.

Satu ketika, pedagang yang tamak lewat di depan rumah seorang nenek dan cucunya. ” Cucuku ingin peralatan makan baru, maukah kau menukar peralatanmmu dengan mangkuk tua ini ?” kata si nenek. Pedagang tamak memerhatikan mangkuk itu. Ternyata, mangkuk itu terbuat dari emas dan si nenek tidak mengetahuinya. Muncul niat jelek di benaknya. Ia ingin mendapatkan mangkuk itu dengan harga yang murah.

“Mangkuk ini tidak ada harganya. Aku tukar dengan sebuah sendok,” kata pedagang tamak sambil mencibir. “Apa tidak terlalu murah? Mangkuk ini warisan suamiku, ” kata si nenek. ” Kalau tidak mau, ya sudah, ” jawab pedagang tamak sambil beranjak pergi.

Tidak lama kemudian, pedagang yang jujur lewat. Si nenek pun memanggilnya. “Maukah kau menukar mangkuk tua ini dengan peralatan makan yang kau jual?” kata si nenek.

Setelah memperhatikan mangkuk itu, pedagang yang jujur terkejut. ” Mangkuk ini terbuat dari emas. Semua barang yang aku punyatidak akan cukup untuk membayarnya,” katanya.

“Tak apa, kau ambillah mangkuk itu dan bayarlah aku sepantasnya, ” kata si nenek. “Baiklah, aku berikan semua barang dan uangku,” kata pedagang yang jujur.

Pedagang yang jujur pun pergi ke kota untuk menjual mangkuk emas itu. Tak lama kemudian, pedagang yang tamak datang kembali kerumah si nenek. Kemudian, si nenek berkata, “Aku sudah menjual mangkukku kepada pedagang lain. Ia menghargai mangkukku, tidak seperti engkau,” kata si nenek.

“Apa?” pedagang tamak memukul keningnya dan menyesali perbuatannya yang tamak. Sementara pedagang jujur hidup bahagia dengan uang hasil penjualan mangkuk emas.

Dikutip dari :

365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa

Sitta Mayasari

Raja Yang Sangat Suka Mendengarkan Dongeng

Dahulu kala, hiduplah raja yang sangat suka dongeng. Ia selalu ingin mendengarkan dongeng baru setiap hari. Sampai akhirnya, pendongeng istana kehabisan bahan mendongeng.

Raja pun membuat sayembara, “Aku akan memberikan putriku pada orang yang bisa menceritakan dongeng yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. “Banyak yang mengikuti sayembara, tapi tidak ada yang berhasil satu pun.

Di tempat lain, hiduplah anak muda yang miskin. “kau ikut sayembara saja? Putri pasti jatuh cinta padamu, “kata tetangganya sambil tertawa menghina si miskin. ” Ya, ide yang bagus. Aku akan ikut sayembara. Paling tidak, aku akan dapat makanan, ” pikir si anak muda miskin sambil tersenyum.

Si anak muda miskin memutuskan pergi ke istana. “Ada apa anak muda?” tanya raja. “Aku mau mendongeng, Tuanku. Tapi, sebelumnya, tolong beri aku makanan. Aku belum makan seharian, ” jawab si anak muda miskin.

Raja tertawa melihat si miskin yang mengenakan pakaian penuh tambalan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika si miskin jadi menantunya. Si anak muda miskin pun mulai makan. Setelah selesai, ia dipanggil lagi menghadap raja.

“Baiklah, mulailah mendongeng!” kata raja kepada si anak muda miskin. Si anak muda miskin pun mendongengkan kehidupannya yang miskin. Raja terkaget – kaget. Ia tidak pernah mendengar dongeng tentang orang miskin sebelumnya. Biasanya ia mendengar dongeng tentang kekayaan , kemuliaan, raja – raja, pangeran, atau putri. Berarti, si anak muda miskin memenangkan sayembara. Tapi, raja tidak mau jika harus menikahkan si anak muda miskin dengan putrinya.

“Jangan gundah, Rajaku. Aku tidak menginginkan putrimu. Berikan saja aku pekerjaan agar tidak miskin lagi, ” kata si anak muda miskin yang tahu kegundahan hati raja.

Raja tersenyum senang oleh kebaikan hati si miskin. Ia pun mengangkatnya menjadi pendongeng istana. Sejak saat itu, si miskin hidup berkecukupan dan dihargai oleh tetangganya.

Dikutip dari :

365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa

Sitta Mayasari

3 x 8 = 23

Suatu hari, ada keributan antara penjual kain dan pembelinya di pasar. “Tiga kali delapan itu dua puluh empat!” teriak pembeli. “Bukan! Dua puluh tiga!” teriak penjual kain melotot.

Keduanya saling mempertahankan pendapatnya hingga hampir berkelahi. Bersamaan dengan itu, datang Yan Hui menengahi. Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius. “Berhenti…berhenti…ada apa ini?”

“Coba kamu jawab, berapa hasil dari tiga kali delapan?” tanya penjual kain. “Oh…tentu saja dua puluh empat.” Jawab Yan Hui. “Aku tidak percaya. Ayo, kita tanya Confucius!” ajak penjual kain. “Tidak perlu bertanya pada Confucius. Sudah jelas tiga kali delapan adalah dua puluh empat!” ujar Yan Hui sambil tertawa. “Ayo kita buktikan!” ujar penjual kain kesal sambil mengajak Yan Hui pergi menemui Confucius.

Sesampainya dirumah Confucius, penjual kain bertanya, “Confucius, jawab dengan benar berapa hasil tiga kali delapan? Jika salah, akan aku berikan kepalaku pada Yan Hui. Jika benar, Yan Hui harus menyerahkan jabatannya kepadaku.”

“Baik. Aku setuju!” tantang Yan Hui. “Tenang…tenang! Siapa yang menjawab dua puluh tiga?” tanya Cnfucius. “Aku” jawab penjual kain.

“Benar. Jawaban kamu benar! Yan Hui, serahkan jabatanmu padanya,” jelas Confucius. Dengan berat hati, Yan Hui memberikan topi kepada penjual kain sebagai tanda.

“Ah…mungkin Confucius sudah pikun,” gumam Yan Hui kesal sambil berpamitan. “Ingat pesanku. Jika hujan lebat, jangan berteduh di bawah pohon. Jangan membunuh dan cepat kembali jika urusanmu sudah selesai,” pesan Confucius.

Di tengah perjalanan, hujan turun dengan lebat. Di sana, ada pohon rindang dan Yan Hui ingin berteduh di sana. “Mmmm,,,, tapi Confucius bilang aku tidak  boleh berteduh di bawah pohon.” gumam Yan Hui sambil meneruskan perjalanannya. Baru beberapa langkah berjlan, tiba – tiba terdengar suara keras. “Duarr…! Brug…! Yan Hui menoleh kebelakang. Ternyata, pohon rindang tadi rubuh karena tersambar petir. “Oh…Confucius benar!”

Sesampainya di rumah, hari sudah larut. Yan Hui masuk ke kamar mengendap – ngendap karena takut istrinya terbangun. “Hah…ada orang di samping istriku. Siapa dia?” tanya Yan Hui. Yan Hui mengambil pedang hendak membunuh orang itu. Namun, Yan Hui teringat pesan Confucius dan menunggu hingga terang. Ternyata, yang tidur di ranjang istrinya adalah adik istrinya. “Untung aku tidak membunuhnya.”

“Ternyata, ucapan Confucius benar. Ia tidak pikun,” ucap Yan Hui. Yan Hui pun segera pergi untuk kembali menemui Confucius. Sesampainya di sana, Confucius menyambut Yan Hui dengan gembira.

“Guru, hebat! Kenapa kamu tahu apa yang akan terjadi padaku?” tanya Yan Hui.

“Kemarin udara sangat panas. Diperkirakan akan turun hujan disertai petir. Lalu, kamu pergi dengan membawa pedang sambil memenda amarah,” jelas Confucius.

“Tahukah kamu, kenapa aku membenarkan jawaban penjual kain?” tanya Confucius.

“Bayangkan. Jika aku katakan tiga kali delapan adalah dua puluh empat maka penjual kain itu harus mati. Jika aku katakan dia benar, hanya jabatanmu yang diberikan. Apakah jabatanmu lebih berharga dari sebuah nyawa?” tanya Confucius.

Dengan malu hati, Yan Hui sadar bahwa Confucius memang hebat dan bijaksana. Untuk itu, Yan Hui kembali berguru pada Confucius.

 

 

Dikutip dari:

Dongeng Oriental

Kisah Kebaikan Hati dari negeri Cina

Tethy Ezokanzo & Aan Wulandari

Kisah Nabi Daud A.S.

Setelah Nabi Musa wafat, Bani Israil kembali menyembah berhala, mereka meninggalkan Taurat, kitab peninggalan Nabi Musa. Mereka tercerai – berai tanpa seorang pemimpin. Sampai akhirnya Allah SWT, menurunkan utusannya bernama Samuel untuk membimbing mereka sekaligus menyampaikan berita tentang seseorang yang akan menjadi pemimpin mereka.

Atas petunjuk Allah, Samuel mengatakan bahwa calon pemimpin Bani Israil adalah seseorang yang berilmu, kuat dan bijaksana serta menguasai ilmu perang, namun ia dari kalangan rakyat biasa. Dia bernama Thalut. Kaum Bani Israil pun kecewa. Mereka merasa orang biasa tidak pantas menjadi raja. Akhirnya, Nabi Samuel diminta menunjukkan bukti yang lebih kuat bahwa Thalut adalah orang yang pantas memimpin mereka.

Samuel mengatakan bahwa kembalinya Tabut yang akan dibawa oleh malaikat sebagai buktinya. Akhirnya, mereka percaya setelah mereka melihat Tabut itu dan bersedia mengangkat Thalut menjadi pemimpin mereka. Segera setelah diangkat menjadi Raja, Thalut mengumpulkan rakyatnya untuk membentuk pasukan yang kuat guna melawan bangsa yang telah lama menindas mereka.

Setelah mereka berlatih cukup lama, pasukan yang dipimpin Thalut pun siap untuk berperang. Mereka akan betempur dengan pasukan yang dipimpin Jalut.

Di tengah perjalanan, Thalut berkata kepada pasukannya, ” Allah akan menguji kita dengan sebuah sungai. Barang siapa meminum airnya, dia bukanlah pengikutku. Barangsiapa yang tidak meminumnya, kecuali seteguk saja, dia adalah pengikutku!”

Tibalah mereka disebuah sungai seperti yang dikatakan Thalut. Udara yang panas dan tubuh yang letih membuat sebagian besar pasukan lupa akan peringatan Thalut sebelumnya. Segera mereka menceburkan diri ke sungai dan meminum air sungai sepuasnya. Kejadian ini menyebabkan jumlah pasukan Thalut menyusut. Sebagian besar dari mereka tak mampu lagi melanjutkan perjalanan karena telah mengabaikan penringatan Thalut.

Meski telah berjumlah sedikit, pasukan ini terus berjalan menuju medan perang. Mereka adalah pasukan pilihan yang telah lulus dari ujian. Akhirnya sampailah mereka di suatu tempat yang telah ditentukan. Bertemulah pasukan Thalut dengan pasukan Jalut. Jumlah pasukan Jalut yang banyak tidak menggetarkan pasukan Thalut. Mereka yakin Allah SWT akan menolong. Mereka terus berdoa kepada Allah SWT.

Daud dan saudara – saudaranya termasuk kedalam pasukan Thalut. Daud masih sangat muda, sehingga ia ditempatkan di garis belakang. Daud bertugas sebagai pelempar yang menggunakan ketapel raksasa.

Di arena pertempuran, pasukan Thalut dan pasukan Jaut berhadapan. Muncullah Jalut di tengah arena seraya menantang. Daud maju menjawab tantangan dari Jalut. melihat Daud yang masih belia dengan tubuh kecilnya, Jalut berkata, “Kembalilah, aku tidak ingin membunuhmu. “Daud menjawab dengan lantang, tapi, aku ingin membunuhmu!”

Daud segera mengarahkan ketapelnya ke arah Raja Jalut. Dengan sekali tarikan sebuah batu melesat dengan cepat. “Wuuussshh….!” dan tepat mengenai kepala Jalut. Tubuh Jalut yang besar pun roboh ke tanah. Mengetahui Jalut tewas, pasukannya menjadi bercerai – berai. Melihat hal itu, pasukan Thalut bergembira. Semangat mereka pun bertambah. Akhirnya, dengan pertolongan Allah, pasukan Thalut berhasil meraih kemenangan meski jumlah mereka sedikit.

Saat kembali pulang, seluruh rakyat menyambut pasukan dengan sukacita. Mereka mengelu – elukan Daud senbagai pahlawan perang. Raja Thalut pun bangga memiliki Daud di dalam pasukannya. Hingga suatu waktu, Thalut pun menikahkan putrinya yang bernama Mikyal dengan Daud.

Kehebatan Daud dan kecintaan rakyat kepadanya lama – kelamaan memunculkan rasa iri di dalam hati THalut. Rupanya, ia takut Daud akan mengambil alih kekuasaannya. Karena itu, ia pun mulai menyusun rencana jahat utnuk menyingkirkan Daud. Atas izin Allah, Daud akhirnya mengetahui rencana jahat Thalut. Daud pun segera pergi meninggalkan istana bersama istrinya. Sebagian rakyat yang mengatahui kepergiannya segera ikut menyusul.

Thalut yang akhirnya mengetahui kepergian Nabi Daud menjadi marah. Ia segera mngirim pasukan untuk menangkap Nabi Daud. Namun, usaha itu sia – sia. Nabi Daud berhasil menyelamatkan diri. Meski terus diburu, Nabi Daud tetap berupaya mencari cara untuk menyadarkan Thalut. Dengan pertolongan Allah, Usaha Nabi Daud untuk menyadarkan Thalut membuahkan hasil. Thalut bertobat dan menyadari kekeliruannya. Sebagai penebus kesalahannya, Thalut menyerahkan kerajaannya kepada Nabi Daud. Ia pun pergi meninggalkan istananya.

Nabi Daud memimpin kerajaannya dengan bijaksana. Nabi Daud terkenal ketekunannya beribadah, baik shalat maupun puasa. Nabi Daud juga diberi kelebihan oleh Allah mampu melunakkan besi tanpa harus membakarnya. Mukjizat lainnya adalah kitab Zabur yang diturunkan Allah kepada Nabi Daud. Nabi Daud juga dikaruniai suara sangat merdu. Dengan kemerduan suaranya ketika membaca kitab Zabur, burung – burung dan gunung ikut bertasbih bersamanya.

 

Dikutip dari :

Mukjizat Nabiku

Ummu Asma

Ummu Fathan